Relasi dan luka batin: mengobati atau meracuni?

Guntur Ima

Apakah Anda pernah memiliki bekas luka di tubuh anda? Hampir bisa dipastikan bahwa kita pernah memilikinya apalagi Anda yang pernah belajar mengendarai sepeda. Sejak masa kecil, meskipun orang tua menjaga kita dengan sangat ketat, tetap saja kita umumnya memiliki pengalaman terluka. Luka yang menggores tubuh kita dapat dengan mudah dirasakan dan dilihat sehingga bisa segera diobati. Namun, bagaimana dengan luka batin? eRelasi kali ini berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan pasutri Arnold-Cindy (AC) dari Distrik VI Bandung tentang luka batin.

Siapa mereka?
Arnold adalah seorang pengusaha muda, pekerja keras yang tekun dan memiliki kepedulian terhadap relasi, dan Cindy adalah seorang psikolog yang aktif sebagai konsultan keluarga dan juga pengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. AC adalah pasutri muda yang semangatnya terus menyala sebagai Tim ME dalam melayani gerakan WWME. Mereka berdua memiliki visi untuk berjuang demi relasi dalam keluarga.
Khusus untuk eRelasi, mereka membeberkan tentang luka batin dari dua sudut pandang, yaitu dari pengalaman relasi mereka dan dari sudut pandang psikolog.
Luka batin adalah kondisi yang dapat disebabkan dari perlakuan orang terdekat kita yang memunculkan emosi negatif dan membuat kita terluka
Apa itu luka batin?
Menurut AC “luka batin adalah kondisi yang dapat disebabkan dari perlakuan orang terdekat kita yang memunculkan emosi negatif dan membuat kita terluka”. Orang terdekat itu bisa saja orang tua kita sendiri, pasangan ataupun orang lain yang signifikan dalam hidup kita. Mereka menjelaskan bahwa perlakuan yang menimbulkan luka batin mungkin hanya terjadi satu kali namun sangat menyakitkan, atau dapat juga berupa perlakuan negatif yang terjadi berulang-ulang dan dalam kurun waktu yang panjang.
“Luka batin bisa juga tidak disadari,” lanjut AC, “sebagai contoh, ada pasutri yang seringkali bertengkar karena suami menjadi sangat marah karena pasangannya tidak mengucapkan terima kasih saat dia sudah melakukan suatu kebaikan untuk pasangannya. Sementara sang istri kebingungan mengapa emosi marah suaminya begitu meledak hanya karena tidak mengucapkan terimakasih”. Rasa marah yang muncul tersebut bisa saja karena dipengaruhi oleh adanya luka batin di masa lampau. Saat sang suami masih kecil ternyata dia kurang dihargai oleh orang tuanya. Dia menghayati tidak pernah mendapat penghargaan atas perbuatan baik atau prestasi yang didapatkan maka, saat dewasa, secara tidak disadari ia membawa luka itu kepada pasangan dan menjadi sangat sensitif terhadap perlakuan pasangan (yang dia anggap tidak berterimakasih) karena membangkitkan luka di masa lalunya.
Apakah pasangan perlu tahu tentang luka batin kita? Bagaimana dampaknya terhadap relasi?
“Permasalahan yang seringkali muncul, apakah kita sendiri sadar memiliki luka batin? Bila kita mengetahui luka batin apa saja yang dimiliki akan lebih baik bila itu dapat dikomunikasikan dengan pasangan. Dengan demikian pasangan dapat lebih memahami kondisi psikologis kita dan lebih memahami perilaku kita.” jawab AC.
Dampaknya bagi relasi, AC menjelaskan bahwa luka batin dapat mempengaruhi sikap dan perilaku kita secara personal. “Perilaku kita adalah manifestasi dari kepribadian kita dan lingkungan yang membentuk diri kita” tukas AC. Lingkungan di sini adalah orang-orang yang berinteraksi langsung dengan kita dan tanpa kita sadari ikut membentuk kepribadian dan perilaku kita. AC pun menambahkan “seringkali luka batin tidak sempat terungkap namun pasangan lah yang justru mendapatkan imbasnya.”
“Perilaku kita adalah manifestasi dari kepribadian kita dan lingkungan yang membentuk diri kita”
Bagaimana kita bisa berdamai dengan luka batin?
“Pertama-tama yang bersangkutan harus bisa menyadari dan mengakui adanya luka batin. Berikutnya, dia harus mau menerima luka batin yang ia miliki. Terkadang, ada orang yang hanya berhenti pada mengakuinya saja namun tidak mau menerima,” jawab AC.
Lebih lanjut AC mengungkapkan berbagai macam cara untuk mengidentifikasi luka batin, antara lain dengan mengikuti retret bertema luka batin, meditasi, ataupun terapi oleh profesional.
“Pasangan juga dapat menjadi obat yang ampuh dalam menyembuhkan luka batin” tukas AC. Dengan melibatkan pasangan, luka batin dapat dikomunikasikan. “Pasangan bisa mendengarkan (listening), menerima (acceptance), dan berempati (empathy) sesuai dengan nilai-nilai ME.” Kemudian AC memberikan contoh, “misalnya, kita mendapatkan luka batin akibat perceraian orang tua kita. Perceraian dapat menimbulkan luka batin yang mendalam bagi anak.” AC pun menegaskan “Bagaimana anak ini menyikapi pengalaman tersebut saat tumbuh menjadi dewasa adalah poin yang cukup penting. Apakah pengalaman yang “melukai” ini dapat kita terima dan kita temukan makna dibalik peristiwa yang menyakitkan ini untuk membentuk pribadi yang lebih baik lagi? Pribadi yang mau belajar dari pengalaman yang tidak mengenakan dalam hidup”.
“Obat yang paling manjur untuk memulihkan luka batin adalah pemahaman dan penerimaan dari pasangan yang membuat kita dihargai, dicintai dan diterima apa adanya
“Penanganan luka batin,” sambung AC, “sangat tergantung kondisi masing-masing orang. Ada yang bisa menerima dengan baik, tapi ada juga yang tidak bisa sehingga perlu penanganan yang lebih serius dan intensif.” AC pun menambahkan bahwa dengan mengikuti weekend ME, pasangan difasilitasi untuk dapat mengkomunikasikan luka batin, berdialog dengan diri sendiri dan pasangan. “Obat yang paling manjur untuk memulihkan luka batin adalah pemahaman dan penerimaan dari pasangan yang membuat kita dihargai, dicintai dan diterima apa adanya” pungkas AC.
Selamat berdialog dan saling menyembuhkan satu sama lain.
Featured image by JustLife on Adobe Stock Free.
Baca Juga:  Pelukan yang Semakin Hangat dan Hati yang Semakin Penuh Syukur

Start typing and press Enter to search