Blessing in Difference

Oleh: Pasutri Decky – Nika dan Pastor Andreas Adhi Prasety0, Pr.

Pasutri Decky – Nika, Pastor Andreas Adhi Prasetyo, Pr.

Berkat dalam perbedaan. Refleksi singkat ini kami angkat dalam WCM 2022 kemarin. Mengkisahkan mengenai bagaimana perbedaan adat,  budaya dan pola pikir yang awalnya menjadi masalah yang rumit dalam relasi kami, dapat menjadi berkat saat kami berdua mau berkomunikasi dan berproses bersama. Juga bagaimana perbedaan  panggilan dalam Sakramen Perkawinan dan Sakramen Imamat dapat saling menguatkan,  meneguhkan satu sama lain dan bertumbuh bersama. Semuanya ini kami dapatkan, pelajari, alami dan refleksikan setelah kami mengikuti Marriage Encounter. Bagaimana value ME ini dapat membawa kita pada sebuah kedewasaan  dalam cara kita berkomunikasi  dan berelasi baik dengan pasangan maupun orang disekitar kita.

BPS

Decky:

Perasaan saya sangat senang, gembira dan sukacita. Tidak pernah terbayangkan bagi saya untuk dapat berkesempatan terlibat dalam acara WCM ini, apalagi bertemu secara langsung dan berfoto bersama dengan KorDun ( Pasutri Josico- Susana  dan Fr. Jun Limbaga ). Sungguh sebuah kesempatan sangat langkah bagi saya.

Ini semua tidak terlepas dari kesempatan yang diberikan oleh Pastor Adhi  yang mengajak kami berdua untuk ikut berperan serta dalam acara ini. Sebetulnya apa yang kami tampilkan merupakan kepingan dari tantangan yang pernah kami alami dalam rumah tangga kami berdua.

Setelah script selesai dibuat, saya dan istri mulai berlatih bersama. Ada satu kesempatan dimana Romo melihat kami berlatih dan memberikan beberapa masukan. Pada saat akan tampil, saya merasa deg–deg ser karena saya suka demam panggung. Tetapi saya percaya saat kita berusaha memberikan yang terbaik, Tuhan yang akan menyempurnakan.

Baca Juga:  Tak Melulu Musibah, Pandemi bisa Membawa Berkah

Yang menarik, saat kami memerankan drama pada saat acara; kami berdua benar-benar merasa terhubung dan sangat emosional akan cerita yang kami bawakan dimana pernah kami alami bersama dulu. Saya merasa lucu sekaligus terkagum – kagum akan cara Tuhan yang dapat mengubah peristiwa sedih atau tidak menyenangkan itu menjadi peristiwa rahmat saat kami dapat berbagi dengan komunitas ME dalam bentuk drama singkat. Saya sangat terharu akan kasih dan caraNya dalam membentuk saya pribadi,  kami berdua dan juga bersama Romo, dimana kami dapat berproses, bertumbuh, saling menguatkan dan meneguhkan satu sama lain. Semoga pada akhirnya kami dapat menjadi pribadi yang semakin dewasa baik dalam relasi, iman dan hidup kami.

Tuhan memberkati.

Nika:

Dalam perjalanan pulang dari Katedral, hati saya dipenuhi dengan rasa syukur dan kagum. Syukur karena mendapatkan kesempatan yang indah dan langka untuk dapat berbagi dengan pasutri lainnya. Serta kagum pada Tuhan, betapa Ia mampu merubah apa yang manusia pandang sebagai masalah, sebuah tragedi, menjadi suatu peristiwa rahmat untuk memuliakan namaNya.

Saat ‘memerankan’ drama tersebut, sempat terbersit ketakutan. Mungkin bagi penonton, pertunjukan kami adalah sebuah cerita. Namun bagi saya, cerita tersebut sangatlah nyata, dan mau tidak mau saya dipaksa untuk membuka kembali bab kehidupan yang sebenarnya ingin saya lupakan dan tinggalkan.

Namun seiring berjalannya penulisan naskah, latihan dan pada akhirnya gladi bersih bersama suami saya dan Romo Adhi, mata saya perlahan-lahan terbuka akan betapa besar dan melimpah kasih dari-Nya yang akhirnya membalut luka – luka kami dan membantu menyembuhkannya. Dan pada akhirnya, hanya rasa syukur yang begitu besar karena Ia telah mengizinkan kami bertiga melalui tantangan hidup itu bersama-sama dan saling belajar dan menopang satu sama lain, hingga akhirnya semoga kami menjadi pribadi yang lebih baik lagi bagi satu sama lain dan untuk orang-orang di sekitar kami.

Kolase adegan drama Blessing in Difference dalam WCM 2022

 

Baca Juga:  Makassar juga Bisa

Pastor  Andreas Adhi Prasety0, Pr. :

Peristiwa keterlibatan dalam WCM 2022, merupakan sebuah rahmat bagi saya; tidak hanya soal ber-kesenian atau membuat sebuah persembahan dalam malam gembira, Tetapi, di sana ada sebuah peziarahan hidup yang begitu luar biasa. Bahwa relasi Sakramen Perkawinan dan Sakramen Imamat tidak dapat dipisahkan, keduanya saling menguatkan, itu yang pertama.

Dan selama proses untuk persiapan, sebetulnya tidak hanya sehari, dua hari  atau dalam proses pembuatan kemarin atau dalam penampilan saja. Tetapi, sebetulnya proses pembuatannya itu sudah berlangsung sejak lama, yakni ketika saya hadir dalam kehidupan Pasutri Decky-Nika. Begitu juga Pasutri Decky-Nika hadir dalam kehidupan saya dalam menghidupi Imamat saya , sejak di paroki Lumajang. Itulah sebuah peziarahan yang dirangkum secara sederhana dalam sebuah tampilan refleksi di malam gembira WCM 2022 yang lalu.

Lalu yang ketiga, saya sungguh sangat dikuatkan saat itu.  Tidak hanya soal menampilkan atau tampil di atas panggung, tetapi tampilan kemarin di WCM menjadi penguatan bagi saya dalam menjalani peziarahan hidup imamat saya. Bahwa relasi Decky Nika itu sungguh menguatkan bagi saya. Kehadiran Decky Nika membuat perjalanan Imamat saya menjadi penuh warna, dengan kepolosan dan kemauan belajar Nika; juga semangat reflektif dari Decky untuk selalu memaknai  setiap langkah perjalanan perkawian mereka itu sungguh menguatkan imamat saya. Hal ini menguatkan saya untuk semakin terus dan terus menjadi Imam yang baik. Itu yang membuat saya sungguh terharu.

Sebetulnya, relasi Decky Nika itu mereka hidupi dengan cara yang biasa , tetapi mereka memaknainya dengan luar biasa dan itu yang menjadi kekuatan bagi mereka. Dan akhirnya mereka menjadi mercusuar bagi sesama, itulah yang saya rasakan sebagai  seorang Imam.

Baca Juga:  Syahdunya Malam Damai MEP Kesatrian

Maka dari itu saya gembira, saya senang,  saya bersukacita, saya bisa hadir dan terlibat dalam WCM 2022 bersama Decky Nika.

Berkah Dalem.

We Love You, We Need you. (IH/  )

Tim Penari, Pasutri Decky – Nika, Pastor Andreas Adhi Prasetyo, Pr.

 

Start typing and press Enter to search