Ojo Dibanding-Bandingke

Penyambutan Peserta WEME 170 MEP HKY Tegal

Oleh: Pasutri Sigit-Andri (D5 Purwokerto)

Pada hari Jumat, 24 Mei 2024, ME Paroki Hati Kudus Yesus Tegal menyambut 2 pasutri peserta WEME angkatan 170 Distrik V Purwokerto. Pasutri Yongky-Stella dan pasutri Dadang-Lena mengikuti WEME yang diselenggarakan di Rumah Retret Hening Griya Baturaden, pada tanggal 17 – 19 Mei 2024, bersama 13 pasutri lain dari beberapa paroki di Keuskupan Purwokerto.

Meski yang hadir sedikit, namun tidak mengurangi kehangatan dan keceriaan acara. Pasutri yang hadir ikut bernyanyi dan mendengarkan sharing dengan antusias. Pasutri Unu-Vita, sebagai Kormep HKY Tegal ber-BPS, merasa bahagia meskipun tadinya sempat khawatir apakah ada yang hadir karena malam itu gerimis dan liburan long weekend.

 

BPS Peserta Penyambutan WEME

Pasutri Yongky Stella menyampaikan bahwa mengikuti WEME merupakan pengalaman yang luar biasa. Selama ini Yongki biasa dipeluk oleh Stella, tapi dia merasa itu biasa saja, sehingga tidak merespon. Dalam weekend ME, Yongky baru paham, bahwa pelukan tersebut merupakan bahasa cinta dari Stella agar mereka menjadi semakin intim. Maka sekarang Yongky mulai merespon dengan membalas memeluk. Bahkan Yongky mulai memeluk Stella lebih dahulu saat ada kesempatan.

Pasutri Dadang Lena sharing bahwa Lena sering marah karena diusilin oleh Dadang. Saat berpapasan dengan Lena di dalam rumah, Dadang selalu mencolek tubuh Lena, kadang dagu, pipi, bahu dan sering juga pantatnya. Lena selalu marah-marah, apalagi kalau Dadang usil saat Lena sedang sibuk bekerja. Dadang hanya tertawa sambil terus berjalan. Saat weekend ME, Lena menyadari bahwa itu merupakan komunikasi non verbal Dadang untuk menjadi intim dengan Lena, sehingga sekarang Lena tidak marah-marah lagi.

BPS Peserta WEME A170

 

Baca Juga:  Harta Karun Distrik X Malang

Sesi yang berkesan bagi kedua pasang adalah saat membicarakan tentang kematian. Pasutri Dadang Lena pernah berdiskusi bagaimana saat mereka mati nanti, membahas dimana tempat peristirahatan akhir nanti. Saat weekend, Dadang baru sadar, “Eh, ternyata tidak cukup nanti mau dikubur atau dikremasi. Iya, ya, gimana perasaan kami saat salah satu dari kami nanti tidak ada. Kami biasa bersama-sama, lalu salah satu dari kami tidak ada”.

Pasutri Yongky Stella juga sharing, dari sesi tentang kematian membuat Stella sadar bahwa meski dia selama ini merupakan pribadi yang mandiri, namun ternyata dalam beberapa hal dia bergantung dengan Yogky. Kalau bisa, dia memilih duluan, karena tidak bisa membayangkan jika nanti Yongky tidak ada, bagaimana dengan dirinya.

Salah satu pasutri sepuh yang hadir, Pasutri Sartono Diah merasa senang bisa ikut dalam acara penyambutan tersebut. Hal ini membuat mereka teringat dengan weekend yang mereka ikuti pada tahun 1990an. Meski lupa siapa yang memberikan weekend, tapi masih ingat dengan sesi-sesinya, yang mereka hidupi sampai saat ini. Terutama bahwa tiap orang berbeda-beda, maka “ojo dibanding-bandingke” dan menuntut pasangan seperti orang lain.

Start typing and press Enter to search