Pembalap Itu Telah Tiba di Garis Finishnya

Oleh: Pasutri Dany – Yani (Distrik X, Malang)

 

Kota Malang berduka…

Pada Hari Jumat pagi, 2 Februari 2024, Gereja St. Albertus de Trapani Blimbing – Malang penuh sesak oleh umat serta kaum biarawan/biarawati yang mengantar dan dan mendoakan kepergian Bapak Benediktus Patal Kedang, yang akrab dipanggil Pak Benny, dalam misa Requiem.

“PEMBALAP, Pemuda Berbadan Gelap…” begitu Bu Endang pasangannya, biasa menyebut Pak Benny.  Sosoknya yang tinggi, besar, selalu klimis dan wangi. Samar – samar saya masih dapat mengingat wangi parfum yang biasa dipakainya,  gayanya yang selalu rapi masih melekat dalam ingatanku.

Pasutri Endang – Benny

 

Kediaman Endang-Benny seringkali menjadi MaBes bagi beberapa komunitas. Mereka membuka rumahnya bagi para pengurus gereja dan lingkungan St. Monika tempat mereka tinggal, juga bagi  komunitas Flobamora (Flores, Sumba, Timor dan Alor) yang berada di Pulau Jawa. Beberapa Pastor Paroki bahkan berkata, rumah Endang-Benny sudah seperti pastoran ke-2 saja bagi mereka.

Pak Benny sempat melayani di KWI sebagai migrancare selama 12 tahun.  Di Keuskupan Malang beliau ikut terlibat melayani di FKUB (Forum Kerukunan Antar Umat Beragama) yang akhirnya menciptakan relasi yang sangat dekat antara Pak Benny dengan Gus Zain, pemilik Pondok Pesantren Alzaini di Tumpang.  Hal ini tampak saat, Gus Zain turut hadir dalam doa arwah di tempat kediaman Pak Benny.

Tuhan memberikan anugerah yang amat besar bagi keluarga Endang-Benny, perkawinan antara “Pembalap” asal Flores dan Bu Endang yang Putri Solo itu dianugerahi seorang putra, Albert yang tampan dan gagah seperti Pak Benny dan Putri yang cantik seperti Bu Endang.

Foto Keluarga Pasutri Endang – Benny

 

Baca Juga:  Menghidupi Sakramen

Banyaknya Imam yang mempersembahkan Misa Requiem, bangku koor yang penuh terisi paduan suara kolaborasi antara Gracioso Sonora, lingkungan St. Monica dan Komunitas Flobamora serta banyaknya umat yang mengantarkan kepergian beliau, membuat saya terharu biru, betapa Tuhan sangat mencintai Pak Benny. Kenyataan yang saya lihat saat itu seperti mengingatkan kembali sosok Pak Benny yang selalu wangi selama hidupnya, ternyata juga tetap harum mewangi hingga kepergiannya.

Pembalap itu tiba di garis finishnya, dia pergi tak kembali, namun cintanya takkan pernah mati.

Selamat jalan ke Rumah Bapa Pak Benny… Doa kami menyertaimu…  Nyanyian kami mengiringimu… Cinta kami kan selalu menjaga pasangan tercintamu…

We Love You, We Need You ????????

 

Start typing and press Enter to search