AMORIS LAETITIA KELUARGA: Pesan Bapa Suci Kepada Para Pasutri

Oleh karena itu, saya mendorong anda, para pasutri terkasih, untuk aktif di Gereja, terutama dalam pelayanan pastoral keluarga. “Tanggung jawab misi bersama menuntut agar para pasutri dan para pastor tertahbis, terutama para uskup, bekerja sama dengan secara tepat dalam merawat dan menjaga gereja domestik” [Pesan Paus kepada peserta dalam Forum “Dimana kita berada dalam Amoris Laetitia?”]. Jangan pernah lupa bahwa keluarga adalah “sel dasar masyarakat” [ Evangelii Gaudium, 66]. Pernikahan adalah bagian penting dari rencana membentuk “budaya perjumpaan” [Fratelli Tutti, 216]. Dengan demikian, keluarga dipanggil untuk menjadi jembatan generasi dalam mewariskan nilai-nilai kemanusiaan sejati. Kreativitas baru diperlukan, untuk mengungkapkan, di tengah tantangan saat ini, nilai-nilai yang membentuk kita sebagai umat, baik dalam masyarakat kita maupun dalam Gereja, Umat Allah.

Pernikahan, sebagai panggilan, memanggil anda untuk mengemudikan perahu kecil – yang diombang-ambingkan ombak namun kokoh, berkat sakramen – melintasi lautan yang terkadang berbadai. Seberapa sering anda ingin berkata, atau lebih tepatnya berseru, seperti para rasfamiliaul: “Guru, apakah Engkau tidak peduli bahwa kami binasa?” (Mrk 4,38). Namun, marilah kita tidak pernah lupa bahwa berkat sakramen perkawinan, Yesus hadir di perahu itu; Ia peduli pada anda dan Ia tetap di sisi anda di tengah badai. Dalam perikop Injil yang lain, ketika mereka mendayung dengan susah payah, para murid melihat Yesus mendatangi mereka dengan berjalan di atas air dan mereka menyambut-Nya masuk ke dalam perahu mereka. Kapan pun anda diterpa angin kencang dan badai, lakukan hal yang sama: sambut Yesus ke dalam perahu anda, karena sekali Ia “naik perahu bersama mereka… angin pun reda” (Mrk 6,51). Adalah penting bahwa anda bersama-sama tetap memandang kepada Yesus. Hanya dengan cara ini, anda akan menemukan kedamaian, mengatasi konflik dan menemukan solusi untuk banyak masalah. Masalah-masalah tersebut tentu saja tidak akan hilang, tetapi anda akan dapat melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Hanya dengan menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan, anda akan dapat melakukan apa yang mungkin nampaknya mustahil. Kenalilah kelemahan dan ketidakberdayaan anda sendiri dalam menghadapi begitu banyak situasi di sekitar anda. Namun pada saat yang sama yakinlah bahwa kuasa Kristus akan nampak dalam kelemahan Anda (lih. 2 Kor 12,9). Justru di tengah badai itulah para rasul mengetahui kerajawian dan keilahian Yesus, dan belajar untuk percaya kepada-Nya.

Dengan mencermati ayat-ayat Kitab Suci ini, saya ingin merenungkan beberapa kesulitan dan peluang yang dialami oleh keluarga selama masa pandemi. Misalnya, masa karantina berarti ada lebih banyak waktu untuk bersama, dan ini menjadi peluang untuk memperkuat komunikasi dalam keluarga. Tentu, hal ini menuntut latihan kesabaran. Tidak mudah untuk bersama sepanjang hari, ketika semua orang harus bekerja, belajar, berekreasi dan beristirahat di rumah yang sama. Jangan biarkan rasa lelah menguasai diri anda: semoga kekuatan cinta membuat anda lebih memperhatikan orang lain – pasangan, anak-anak – daripada kebutuhan dan kekhawatiran anda sendiri. Izinkan saya mengingatkan anda tentang apa yang saya katakan dalam Amoris Laetitia (lih. No. 90-119), yang diilhami oleh nyanyian cinta kasih Santo Paulus (lih. 1 Kor 13,1-3). Mohonlah karunia cinta dari Keluarga Kudus dan baca ulang pelajaran kasih dari Paulus, sehingga dapat menjadi inspirasi bagi keputusan dan tindakan Anda (lih. Rom 8,15; Gal 4,6).

Dengan demikian, waktu yang anda habiskan bersama, lebih dari pepulih, akan menjadi perlindungan di tengah badai. Semoga setiap keluarga menjadi tempat penerimaan dan pengertian. Pikirkanlah nasihat yang saya berikan kepada anda tentang pentingnya tiga kata sederhana itu: “tolong, terima kasih, maaf”. [Pidato kepada peserta ziarah keluarga selama Tahun Iman 26 Okt 2013; Amoris Laetitia, 133] Setelah setiap pertengkaran, “jangan biarkan hari berakhir tanpa berdamai”. [Katekese 13 Mei 2013; bdk. Amoris Laetitia, 104] Jangan malu untuk berlutut bersama di hadapan Yesus dalam Ekaristi, untuk menemukan saat kedamaian dan untuk saling memandang dengan kelembutan dan kebaikan. Atau ketika salah satu dari anda sedikit marah, pegang tangannya dan usahakan untuk tersenyum. Anda juga dapat melafalkan doa singkat bersama setiap malam sebelum tidur, dengan Yesus di sisi Anda.

Start typing and press Enter to search