“Where There is Love” Tema Sidang Denas ME ke 50 di Yogyakarta

NET-Pastor Andy, Chris-Lely

 

Dalam Sidang Denas, para peserta menggeluti tema “Where There is Love” sebagai tema seluruh komunitas ME Asia. Pasutri Christian Setiawan-Bernadeth Lely dan Pastor Adrianus Andy Gunardi, Pr sebagai Koordinator Nasional ME Indonesia mengatakan bahwa tema ini didahului dengan beberapa pertemuan secara online berbagi dinamika 4 pilar di distrik dan wilayah masing-masing. Tiga formation dibagikan dalam Sidang Dewan Nasional ini.  Formasi pertama dibicarakan tentang “Ikigai”yaitu sebuah prinsip hidup yang membuat kita lebih bermakna, bermanfaat dan seimbang guna mencapai kebahagiaan hidup yang sejati. Formasi kedua dengan tema “Berburu Harta Karun.” Sakramen Perkawinan dan Sakramen Imamat adalah harta karun yang terus dikejar dan dihidupi agar upaya memperjuangkan kedua sakramen ini mewujud menjadi cara hidup.

 

Formasi ketiga dikemas dalam renewal akbar di akhir Sidang Denas dengan tema “Mata Hati.” Pasutri Chris-Lely mengajak kita semua untuk melihat orang, peristiwa dan kejadian di sekitar kita dengan mata hati yang dalam dan peka. Kita tidak boleh hanya melihat hal-hal yang dipermukaan atau dari satu sudut saja. Seringkali terjadi kesalahpahaman atau keliru menilai sesuatu karena kita cenderung melihat hanya dipermukaan, tanpa mau masuk dalam hati seseorang, tidak mau memposisikan melalui sudut yang berbeda.

 

Pastor Andy menjelaskan tentang apa itu “Paralaks” yakni bagaimana posisi suatu objek tampak bergeser, cara seseorang tampak bergerak ketika kita bergantian melihat melalui jendela bidik kamera dan hanya menggunakan mata kita. kita bisa mendapatkan gambaran tentang apa itu paralaks dengan menutup satu mata terlebih dahulu, lalu berganti dengan mata lainnya; objek yang kita fokuskan tampak bergerak sedikit. Paralaks juga menggambarkan bagaimana objek tampak berbeda-beda bergantung pada lokasi pengamat. Paralaks berasal dari bahasa Yunani, paralaksus, yang berarti “perubahan”.

 

Dengan melatih kepekaan mata hati, kita diajak semakin menyelami perasaan dan pengalaman orang lain makin mendalam. Dengan begitu kita tidak akan mudah menghakimi, menuduh, dan memvonis orang lain dengan semena-mena. Dengan mata hati yang peka kita akan semakin menghargai, mengasihi dengan tulus, menerima orang lain apa adanya.

Start typing and press Enter to search